Halo rekan-rekan satu pahat!
Di blog ini, kita sering sekali membahas soal teknik membubut, cara asah pahat, sampai cara setting mesin agar presisi. Tapi hari ini, saya ingin membahas satu hal yang sering dianggap remeh oleh pemilik bengkel UMKM atau bengkel rumahan: Pencatatan Keuangan.
Banyak rekan yang bilang, "Pak Made, yang penting bengkel jalan, ada orderan masuk, bisa buat makan dan bayar gajian, itu sudah cukup."
Dulu saya juga berpikir begitu. Tapi percaya saya, tanpa pembukuan yang jelas, bengkel kita itu seperti mesin bubut yang bearing-nya sudah oblak. Kelihatannya berputar, tapi hasilnya tidak pernah presisi!
Kenapa Bengkel Rumahan Butuh Pembukuan?
Berdasarkan pengalaman saya mengelola bengkelntk.com dan investasi pribadi, berikut adalah alasan mengapa mencatat uang itu sama pentingnya dengan mempresisikan ukuran benda kerja:
1. Memisahkan "Uang Bengkel" dan "Uang Dapur"
Ini kesalahan paling umum. Sering kali uang bayaran dari pelanggan dipakai langsung untuk belanja harian rumah tangga. Akhirnya, pas mata pahat habis atau mesin butuh servis, kita bingung karena uangnya tidak ada. Dengan catatan yang rapi, kita tahu mana yang murni keuntungan dan mana modal kerja.
2. Bisa Menghitung Harga Jasa dengan Akurat
Pernah tidak merasa orderan ramai tapi kok saldo di rekening tidak bertambah? Mungkin karena salah hitung harga jasa. Dengan mencatat pengeluaran (listrik, mata pahat, oli, gaji pembantu tukang), kita bisa menentukan harga jasa yang jujur tapi tetap menguntungkan bagi kita.
3. Dasar untuk Investasi Masa Depan
Ingat rumus Future Value yang sering saya bahas? Kita tidak bisa berinvestasi di saham atau reksa dana kalau kita tidak tahu berapa sisa uang "dingin" yang kita punya. Catatan keuangan yang rapi adalah tiket kita untuk bisa punya dana pensiun dari hasil membubut.
Apa Saja yang Perlu Dicatat?
Tidak perlu sistem komputer yang canggih kalau baru mulai. Pakai buku tulis atau tabel sederhana di HP (seperti yang saya lakukan di spreadsheet Akuntansi 2026) sudah cukup. Yang penting catat:
Pemasukan: Setiap rupiah dari hasil jasa bubut atau las.
Pengeluaran Operasional: Beli bahan, mata pahat, listrik, dan transportasi.
Kewajiban: Gaji tim/pembantu tukang dan piutang pelanggan (ini penting agar tidak lupa menagih!).
Kesimpulan
Membubut butuh ketelitian, mengelola uang juga sama. Jangan sampai tenaga kita habis di bengkel, tapi masa depan kita tidak punya cadangan modal karena pengelolaannya berantakan.
Mulailah mencatat hari ini. Kalau keuangan bengkel rapi, hati tenang, kerja pun jadi lebih maksimal.
Siapa di sini yang masih pakai buku warung untuk catat orderan bubut? Atau sudah ada yang pakai aplikasi?
Salam satu pahat, Made Ari

Comments
Post a Comment